Skip to main content

Manusia mempunyai sifat yang ingin tahu tentang pariwisata, ingin tahu tentang apa; Mengapa muncul pelayanan pariwisata, dan apa gunanya pelayanan pariwisata yang baik?


             Dalam ilmu sosial (termasuk ilmu pariwisata) tidak ada kebenaran absolut. Sifat keingin tahuan disebabkan karena upaya para penstudi pariwisata untuk mencari kebenaran, keadilan, dan kebahagiaan sebagai suatu unsur hidup disiplin ilmu apapun di dunia ini.
Kemuculan pelayanan pariwisata merupakan suatu posultat akan eksistensi bsinis leisure dan hospitality yang menjadi senjata utama pariwisata.
Secara filosofis, pelayanan pariwisata  yang baik sebagaimana yang dimaksud merupakan salah satu unsur untuk memenuhi aspek aksiologi yang berkaitan dengan etika yaitu aspek baik dan buruknya suatu perilaku seseorang. Dengan demikian, pelayanan yang baik (quality of services) akan menghasilkan kepuasan layanan pada wisatawan baik domestic maupun mancanegara.
Bilamana wisatawan puas, sejalan dengan teori manajemen arus utama bahwa kepuasan layanan akan membuat konsumen (wisatawan) loyal. Milsalnya, loyalitas Australian people datang ke Bali meskipun pernah terjadi Bom Bali. Hal dikarenakan pelayanan yang baik dilakukan semua unsur-unsur masyarakat atau stakeholder yang bermai disektor pariwisata.

Comments

  1. Saya menunggu postingan selanjut nya ,dan saya berharap di tulisan selanjut nya di ikutkan contoh nya juga ,agar bisa lebih memahami

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

KONSEP DESA WISATA: SEBUAH PENGANTAR

  KONSEP DESA WISATA: SEBUAH PENGANTAR Keberadaan desa wisata kini semakin eksis di tengah perkembangan pariwisata global saat ini. Bagaimana tidak, pundi-pundi rupiah mengalir melalui kegiatan pariwisata berbasis pedesaan. Namun demikian, desa wisata tidak semata-mata dikembangkan hanya sebatas kepentingan ekonomi, melainkan sebuah reaksi terhadap jejak-jejak negatif dari pariwisata massal seperti degradasi lingkungan, polusi budaya, polusi suara. Konsep desa wisata merupakan wujud dari pariwisata alternatif agar dapat menggunakan sumberdaya secara bijak dan tidak lagi menjadikan destinasi sebagai benteng terbuka, melainkan destinasi yang memiliki karakter, ciri khas kebudayaan lokal, sehingga tidak mudah tergerus oleh budaya asing. Pariwisata massal juga rentan terhadap hegemoni kekuasaan, sehingga masyarakat hanya bisa mengangguk dan menaati instruksi dari kekuasaan. Padahal pengembangan pariwisata yang ideal adalah bottom-up , seperti praktik desa wisata yang diinisiasi d...

PERIODISASI DEFINISI TOURISM

PERIODISASI DEFINISI TOURISM TAHUN 1980-1990 PERIODE BY FORMULASI 1982 James J. Spillane Pariwisata adalah kegiatan melakukan perjalanan dengan tujuan mendapatkan kenikmatan, mencari kepuasan, mengetahui sesuatu, memperbaiki kesehatan, menikmati olahraga atau istirahat, menunaikan tugas, berziarah dan lain-lain. 1982 Mathieson dan Wall Pariwisata sebagai "gerakan sementara orang untuk tujuan di luar tempat kerja normal dan tempat tinggal, kegiatan yang dilakukan selama mereka tinggal di tujuan tersebut, dan fasilitas diciptakan untuk memenuhi kebutuhan mereka 1982 Mathieson dan Wall Mendefinisikan pariwisata sebagai serangkaian aktivitas berupa aktivitas perpindahan orang untuk sementara waktu ke suatu tujuan di luar tempat tinggal maupun tempat kerjanya yang biasa, aktivitas yang dilakukannya selama tinggal di tempat tujuan tersebut, dan kemudaha...

Eksplorasi Pengetahuan Tradisional (PT) dan Ekspresi Budaya Tradiosional (EBT)

   1.       Pengetahuan Tradisional (PT) Dan Ekspresi Budaya Tradisional (EBT) A. Manfaat PT dan EBT sebagai model adaptasi Pada zaman dahulu kala, manusia hidup dengan keadaan belum masuknya ilmu pengetahuan seperti tahun millennium dewasa ini. Manusia zaman dahulu mengandalkan pengetahuan tradisional untuk bertahan hidup dan menjalankan kehidupan sehari-hari. Contohnya seperti: bagaimana manusia dahulu mengolah makanan mentah menjadi makanan jadi menggunakan api dengan cara menggosokkan antara batu dengan batu sehingga percikan api. Secara epistemology manusia memiliki naluri untuk mencari tahu bagaimana cara menyalakan api tersebut. Contoh lain dalam kehidupan sehari-hari pada zaman dahulu manusia mempercayai mitos sebagai pengetahuan tradisional, seperti: jika megalami gangguan kesehatan atau sakit, metode menyembuhkannya adalah dengan mandi di sutau tempat yang dikramatkan. Secara logika itu tidak masuk akal, namun secara epistemolo...